Napasku tersengal-sengal. Keringat dingin mengucur deras. Harus lari ke mana lagi aku?
Sementara lelaki botak di seberang sana masih mengacungkan pisaunya yang tampak mengkilat, tajam.
Aku bersembunyi serapat mungkin, di antara tumpukan kardus dan kayu bekas paket barang.
Langkah lelaki itu makin mendekat. Duh, Gusti! Aku belum mau mati.
“Boy! Keluarlah kau! Aku tau kau sembunyi di sana!” Dia mulai berteriak. Persis ketika aku masih kecil, saat melihat ayahku mati di tangannya.
“Kemarilah! Aku punya yang dijanjikan kemarin padamu!” Bujuknya lagi.
Sial! Benar-benar sial! Aku menghindarinya dari kemarin dan hari ini perutku tak tahan lagi.
“Petok… Petok…”
Pisaunya menebas leherku.
Hehehehe…..petok petok ya
Iyaaa… Mari makan ?
ini yg kena tebas ayam yg di pasar panorama kah? hehehehe
Bisa jadi Pak ?
Petoook, petoook….
KLEPEK! *mati*
Hehe… Cakep FFnya. Selalu suka sama yang namanya FF. Pendek, tapi endingnya nampol, hehe… Jadi pingin ikutan bikin. Dah lama nggak bikin. ^_^
samaaa ayo bikin.. ini sedang berusaha konsisten ikutan ffkamis
Baca petok-petok jadi pengen makan ayam haha.
traktir sekalian ya mba.. hahaha
heheee…ayam toh heheee
Boleh-boleh, ini ceritanya bagus mbak 😀
Wah terimakasih. Twistnya sukses ya
Hehe….tapi leher…bebek tuch…kena petok..petok