“Mau kamu apa?”
Nana menatap mata lelaki di depannya dengan tajam.
“Aku…”
“Sudah! Aku muak!”
“Tapi aku cinta…”
“Persetan dengan kamu dan cinta. Bagiku kalian sudah mati!”
“Nana, mengertilah…”
“Stop! Kamu bukanlah siapa-siapa aku lagi!”
Nana berlari menjauh, membiarkan air matanya jatuh menjadi jejak-jejak penghubung masa lalu.
‘Seandainya kamu dulu tak meninggalkan kami, tentu kita tak akan bertemu di tempat ini.’
Nana melangkahkan kakinya dengan gontai menjauhi lokalisasi. Ia hanya ingin lelaki itu tahu, bahwa sejak hari itu tak pantas lagi sang lelaki yang tengah menatap punggungnya menjauh itu dipanggil Papa.
Memilih kursus tambahan bagi anak tentu saja sering kali menambah kekhawatiran baru bagi orang tua.…
Kamu suka baca puisi gak? Aku baru aja namatin satu buku puisi karya Joko Pinurbo…
Penguasaan fondasi matematika pada usia dini 4 hingga 12 tahun memegang peranan krusial dalam membentuk…
Hari Selasa, 7 Oktober 2025 lalu, saya berkesempatan menghadiri Kegiatan XLSMART Peduli Disabilitas Berdaya 2025…
Di balik nama Dr. Arius Satoni Kurniawansyah, S.Kom., M.Kom. tersimpan perjalanan panjang yang sarat perjuangan,…
Semangat, Memulai Bisnis Online Memang Tidak Mudah, Tapi Kamu Bisa! Setiap seller online pasti menghadapi…
This website uses cookies.