Sajadah dan mukenah yang basah oleh air mata
Karena memohon ampun pada-Mu
Karena rindu yang tak terbendung
Karena cobaan-cobaan yang seolah tak bisa kutanggung atau
Karena dosa-dosa yang menggunung
Maka aku berniat kembali, Tuhan
Dengan susah payah dan tertatih-tatih
Melawan diri sendiri
Yang terlena dan terlalu merasa suci
Lalu yang terjadi adalah
Aku mematung tak sadar diri
Hanya berpikir akan melakukannya segera
Tapi tak kunjung jua kaki melangkah
Khusus untuk kamu: Tuhan mempertemukan kita untuk satu tujuan baik, Untuk pengurai saraf yang sedang kusut setelah seharian lelah dituntut Untuk sesekali menjadi penyemangat kataku, untuk dirangkai seperti ini Tiba-tiba saja jemariku rindu menyentuh keypad handphone yang ukurannya lebih kecil dari jari-jariku, menuliskan berpuluh kata untukmu Padahal kamu bukan orang…
Bayi mungil itu masih terus menangis. Aku memandanginya dengan tatapan kosong. Tak lama kemudian suara anak kunci yang diputar terdengar dari pintu depan. ‘Dia pulang!’ Bergegas kugendong bayi kecil malang itu lalu menyusuinya. Suara langkah kaki mendekat. Syukurlah bayi kecil ini sudah diam. Kalau tidak bisa-bisa dia kembali memakiku. “Tadi…
Tuhan itu egois Dia memberi masalah agar kita mendekap pada-Nya Agar kita tak melekat pada dunia Manusia haruslah merdeka, tak terikat oleh perasaan dan pikiran Hening, tenang dan mengenali diri-Nya Pada lepuh subuh Ada yang meneteskan airmatanya bermalam-malam pada jam yang sama, mengajukan permohonan yang juga sama Pada lepuh subuh…
In "#30harinulisrandom"
Apura
Seorang ibu dari anak yang bernama Andara (Adis). Sehari-hari mengajar di sebuah SMP. Meluangkan waktu senggang untuk menulis di blog mengenai kehidupan sehari-hari, flash fiction, dan puisi. Saat ini memiliki target menyelesaikan kumpulan puisi berbahasa Inggris. Untuk melihat profil lebih lanjut dapat mengunjungi media sosial berikut ini: