“Mau kamu apa?”
Nana menatap mata lelaki di depannya dengan tajam.
“Aku…”
“Sudah! Aku muak!”
“Tapi aku cinta…”
“Persetan dengan kamu dan cinta. Bagiku kalian sudah mati!”
“Nana, mengertilah…”
“Stop! Kamu bukanlah siapa-siapa aku lagi!”
Nana berlari menjauh, membiarkan air matanya jatuh menjadi jejak-jejak penghubung masa lalu.
‘Seandainya kamu dulu tak meninggalkan kami, tentu kita tak akan bertemu di tempat ini.’
Nana melangkahkan kakinya dengan gontai menjauhi lokalisasi. Ia hanya ingin lelaki itu tahu, bahwa sejak hari itu tak pantas lagi sang lelaki yang tengah menatap punggungnya menjauh itu dipanggil Papa.
Hari Selasa, 7 Oktober 2025 lalu, saya berkesempatan menghadiri Kegiatan XLSMART Peduli Disabilitas Berdaya 2025…
Di balik nama Dr. Arius Satoni Kurniawansyah, S.Kom., M.Kom. tersimpan perjalanan panjang yang sarat perjuangan,…
Semangat, Memulai Bisnis Online Memang Tidak Mudah, Tapi Kamu Bisa! Setiap seller online pasti menghadapi…
Siapa bilang belajar bahasa Inggris itu membosankan? Kini, anak-anak bisa belajar bahasa Inggris dengan cara…
Dari Uang Jajan ke Pelajaran Berharga Beberapa minggu lalu, anak saya—Andara, yang baru berusia 10…
Hujan deras mengguyur di hari Rabu, 17 Januari 2024. Selepas dari kelas, saya langsung menuju…
This website uses cookies.