Cerpen Flash Fiction

Perempuan yang Tinggal di Kepalaku

tantangan kedelapan kata hati kita

Bayi mungil itu masih terus menangis. Aku memandanginya dengan tatapan kosong. Tak lama kemudian suara anak kunci yang diputar terdengar dari pintu depan. ‘Dia pulang!’

Bergegas kugendong bayi kecil malang itu lalu menyusuinya. Suara langkah kaki mendekat. Syukurlah bayi kecil ini sudah diam. Kalau tidak bisa-bisa dia kembali memakiku.

“Tadi kudengar putriku menangis. Lapar, ya?” Tanyanya sambil mencium pipi bayi yang bulat penuh itu. Aku diam  tak menanggapi. “Minum susu yang banyak ya, Ayah mau tidur. Ngantuk.” Ucapnya lalu naik ke atas kasur dan mendengkur.

Ini pukul tiga pagi. Seenaknya saja dia pulang jam segini, tanpa basa-basi lalu pulas begitu saja. Aku menggerutu dalam hati. Kupandangi bayi yang masih tak henti menghisap cairan dari tubuhku ini. Ia bahkan tak peduli, ibunya ini tengah dongkol setengah mati. Lelah, hampir mati.

Aku tertidur terlampau nyenyak. Tak mendengar kalau bayi malang itu sudah menangis sedari tadi. “Ada apa, Nak? Kamu lapar lagi?” Tanyaku sambil mengeluarkan ia yang dibalik baju. Sialnya bayi itu tidak mau. Dia masih saja menangis, meraung semakin kencang. Aku mulai cemas ketika lelaki yang baru pulang pukul tiga pagi itu terpaksa membuka matanya.

“Ada apa?” tanyanya dengan suara berat. “Dia tidak mau menyusu” jawabku. Jemarinya menelusup dibalik badan bayi itu, “Dia ngompol! Bukan lapar! Ganti popoknya!” Teriaknya. Aku panik, mencoba meraih lembaran kain bernama popok dan bedong.
“Cepat! Dia kedinginan”

Aku makin panik, tergesa membuka ikatan bedong di ujung kaki bayi. Bayi itu terus menangis. Bajunya juga basah terkena air seninya. Aku hendak bergerak mengambil ganti, ketika lagi-lagi dia berteriak “Lamban!”

Aku sekuat tenanga mencoba menahan jatuhnya air mata dan secepat mungkin menyelesaikan drama ganti popok bayi. Lalu menggendong dan menyusuinya lagi. Lelaki yang pulang pukul tiga pagi itu mendengus kesal dan kembali bermimpi. Rasanya ingin kutancapkan belati di punggungnya. Biar dia mati dan tak bisa lagi memaki.

Air mataku menetes, bayi mungil itu tersenyum. Aku benci dia dan bayi sialan ini!

***

Ibu Muda Bunuh Diri: Diduga Kuat Depresi

Aku membaca judul besar berita di secarik kertas koran lusuh bertanggal 27 Desember 2000 itu. Mataku basah saat menelaah setiap paragraf kronologinya. Ibuku, meninggal karena aku.

Tulisan ini diikutesertakan pada tantangan menulis dari Kata Hati di Instagram dengan tagar #katahatichallenge #katahatiproduction –

Previous Post Next Post

You may also like

1 Comment

  • Reply Fira Firdaus

    Wah serem juga ceritanya mbak. Semoga tidak banyak ibu muda yang mengalami hal ini dizaman sekarang..

    Februari 18, 2019 at 4:30 pm
  • Leave a Reply

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.