Cakar Ayam Puisikah ini?

Ketika Bayi Kecilku Bercerita

IBU

Ibu tergelak riang ketika angin ribut berebutan keluar dari bokongku
Seperti anak-anak sekolah yang bersukaria ketika bel pulang
Menyisakan derai tawa yang tak dibuat-buat
Lalu ia kembali girang saat angin yang bergumul di lambungku berkejar-kejaran menyusul kakak-kakaknya yang telah lahir
Tawanya berderai-derai, membuatku melakukannya berkali-kali sampai ia tak sanggup lagi berhenti
Aku senang dan menertawakannya dalam mimpi

Sesekali di sela-selanya, jemarinya meraba pantatku
Memastikan apakah angin-angin itu membawa serta sisa kesukaanku ikut bermain di luar
Kemudian ia akan tersenyum dan tertawa menjadi-jadi ketika kuhabiskan isi lambung dan ususku dalam sekejap, dalam tiga tahap jeda yang tak lama
Sebagian menempel di kulit tangannya, yang lain tersebar ke mana-mana
Dan ibu terus tertawa dan bernyanyi gembira.
Aku suka melihatnya begitu.

BAPAK

Lelaki pertama yang mencintaiku, bahkan sebelum aku dilahirkan. Menciumiku dengan beribu cumbu, kumis dan jenggot halusnya yang tak seberapa membuatku geli. Kalau aku sudah besar, akan kutarik rambut halus di dagunya itu biar ia pura-pura marah dan kami tertawa bersama-sama.

Aku senang berbincang dengan bapak, membicarakan ibu yang tertidur pulas kelelahan dan bercerita tentang hari ini. Lalu aku memilih menangis ketika ia mulai letih, meletakkanku di kasur dan mulai bermain dengan gadgetnya. Aku ingin lebih banyak digendong!

ANDARA

“Dedek cantik
Anak gadisnya Bapak
Si manja sayangnya Ibu
Cucu datuk dan nenek”

Itu aku! Iya, aku dengan segala panggilan sayang mereka. Dicintai oleh semua: bapak, ibu, datuk, nenek, aunty, Om, Wak…

Aku anggota baru di keluarga, yang diimpikan setahun lamanya.

Andara; di dua bulan sepuluh harinya

Previous Post Next Post

You may also like

Leave a comment

Leave a Reply