Flash Fiction

Cuti Sakit Hati

Aku masih berdiri di depan pintu. Menahan sejuta kecewa yang memuncak.

Dua pasang mata itu menatap terkejut ke arahku.

“Robi? Ayo masuk.” Lana mempersilahkanku duduk.
Antara ingin dan tak ingin aku menginterupsi mereka.
“Oya, Robi ini Om Damri.”
Lelaki itu mengulurkan tangannya, ku sambut dengan setengah hati.
‘Ngapain juga gue dikenalin sama om-om?’ dengusku dalam hati.

“Makasih ya, Om bantuannya. Uang yang kemarin udah Lana pakai buat keperluan yang benar, kok.”
Ucap Lana manja, matanya melirik nakal ke arahku.
Aku terkesiap, apa maksudnya?

“Iya Lana, Om juga senang kalau kamu senang. Kalau perlu apa-apa jangan sungkan.”
Balas lelaki yang bernama Om Damri itu. Lana mengangguk.

“Okelah, Om pamit ya, kau dapat salam dari tantemu.”
“Iya Om, salam buat beliau.”
Tante? Jadi?
Mata Lana mengejek habis-habisan

Previous Post Next Post

You may also like

Leave a comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.