Arsip Kategori: #30harinulisrandom

proyek nulis sendiri biar rajin nulis

#Day30: Puisi Tentang Pertemuan

Kita bertemu di antara ribuan pesan singkat dan obrolan yang tak kunjung usai
Diselingi tawa dan gelak yang tak ingin dielak

Sesekali mungkin kita bertemu dalam bunga tidur yang tak mewangi
Pada lembaran doa yang dirapal atau harapan yang hanya digantungkan

Lain waktu kita bertemu melalui gambar potret diri sendiri
Memandang kita yang satu dalam tubuh yang berbeda
Menyunggingkan senyum di pagi yang pertama

Lalu kita bertemu dalam puisi yang sengaja kubuat
Untukmu yang mungkin saja sudah tak ingat
Selebihnya hanya mengenai pertemuan-pertemuan basi yang memang tak pernah terjadi

Dan untuk terakhir kali aku menuntaskan pertemuan itu pada puisi yang ini
Pada tatap muka yang mungkin tak akan pernah ada
Pada barisan cerita yang mungkin akan menguap begitu saja
Sampai berjumpa
Bahagialah di sana bersama DIA.

Untuk semua teman di dunia maya. Bila Tuhan mengizinkan, kita akan kembali dipertemukan pada waktu yang entah dan jarak yang tak biasa. Terimakasih sudah menjadi bagian dalam tulisan-tulisan saya. Hari terakhir di #30HariNulisRandom ini dipersembahkan hanya untuk kamu. Iya, kamu. (:

#Day29: 3 Tipe Rekan Kerja yang Harus Anda Waspadai.

Bagi ibu bekerja seperti saya, mood terkadang jadi salah satu penentu motivasi ‘berhasil’ tidaknya pekerjaan saya hari itu. Seringkali istilah moodbooster jadi sesuatu yang dicari bahkan sudah diciptakan sedari bangun pagi. Urusan domestik selesai, anak-anak semua aman terkendali (ga rewel, ga berantem dan makannya banyak), suami membantu mengantar anak-anak ke tempat penitipan anak dan ke sekolah. Plus segelas kopi dan sarapan sebelum berangkat kerja. Eh, tapi tunggu dulu setibanya di kantor apa yang didapatkan? Berbagai energi negatif yang merusak mood anda pagi itu. Asalnya¬† kebanyakan dari rekan sekerja. Nah, berikut ini tiga tipe rekan kerja yang harus anda waspadai.

1. Rekan yang Punya Jurus Seribu Bayangan
Siapa yang tak kenal Naruto? Tokoh animasi yang punya jurus seribu bayangan, di sini ada di sana ada, ke mana-mana ada. Nah, kalau niatnya membantu seperti Naruto sih, asyik ya? Ini boro-boro bantu adanya ngerecokin dan ngaku-ngaku ngerjain kerjaan yang sudah susah payah kita selesaikan. Parahnya, rekan seperti ini biasanya penjilat nomor uno (satu). Bibirnya manis, racunnya pahit. Di hadapan atasan jelek-jelekin kita, ketemu kita jelek-jelekin atasan. Wah, perlu diserang pake jurus Fuuton Rasenshuriken ini!

2. Rekan dengan Tipe Paman Gober
Tokoh kartun Disney satu ini kayanya selangit, pelitnya juga, sih. Pernah ketemu teman kerja seperti ini? Hobinya pamer, mulai dari cara berpakaian lengkap dengan aksesorisnya yang berkilauan sampai dengan omongan yang suka menjatuhkan lawan bicara. Saya, sih nemu. Ga masalah juga sih mau sekaya apa, yang bikin ill-feel sebenarnya tingkah pelitnya yang minta ampun! Misalnya, jajan bareng ke kantin kantor. Ga pernah sekalipun tipe Paman Gober ini mau gantian traktir. Sukanya ditraktir, minta bayarin. Giliran sekalinya kita minta talangin dulu, eh ditagih sampai ke duit seratus perak. Ini yang bego saya apa dia? :’D

3. Rekan Kerja Tipe Nobita
Nobita itu…
Coba sebutkan sifat-sifatnya?
Yak! Pemalas, pengeluh, lemah…
Ternyata tipe Nobita ini ada di dunia nyata. Memang dia punya sifat positif, namun seringkali energi negatif yang dipunyai bikin males ketemu. Gimana enggak? Baru ngobrol udah ngeluh duit tinggal seribu, baru senyum udah merengek minta bantuan ngerjain kerjaan dia, terus baru datang udah mau pulang aja… Maaf, meskipun perut saya mulai buncit tapi, saya bukan Doraemon. Mamam tuh kerjaan! #DadahAlaMissUniverse

Nah, itu dia tiga tipe rekan sekerja yang harus anda waspadai versi saya. Tipe seperti mereka bisa bikin mood anda yang sudah baik di pagi hari lenyap begitu saja. Punya versi lainnya? Boleh di-share juga ya di sini. Waspadalah! Waspadalah! *lemparbomasapterusngilang

#Day28: Lelaki Tudung Hitam

Sebuah interpretasi dari cerpen milik @harigelita dengan judul yang sama

Matanya menyala gelap
Menusuk lurus ke lubang mataku
Aku terkesiap, hampir terhisap dalam semesta kelamnya
Kuku-kukunya memanjang tumbuh dan terus tumbuh tanpa bisa dihentikan
Ujung tepinya menggores bibirnya sendiri
Lantas secepat cahaya darah itu melekat mengecap pekat di lidahku
Aku tercekat, bernapas hebat dengan dengung yang demikian kuat
Mulutnya menganga hitam gelap dan pekat seakan ingin menelanku bulat-bulat
Lelaki Tudung Hitam itu mendekat
Membuka rongga mulutnya lebar-lebar
Memperlihatkan gusi rumpang yang tak lagi garang
Kuambil parang dan berteriak nyalang
Pergi kau kematian!
Lalu aku terduduk dengan mata yang menyalang. Hilang!

#Day27: Flash Fiction: BABI BETINA

Amira terbangun tepat ketika jam dinding berdentang tiga kali. Dirabanya sisi ranjang sebelah kirinya, kosong. Otaknya dipaksa berpikir, tentang bapak dari anaknya yang belum pulang. Lembur atau? Ia memicingkan matanya memerhatikan anak dari bapaknya yang belum pulang itu tidur pulas dengan damainya. Amira kembali tertidur.

Pukul tujuh pagi, Amira sibuk membuat sarapan untuk anak yang bapaknya belum juga pulang. Ia berusaha tak khawatir mengenai bapak dari anaknya itu. Ia tak suka berdebat. Ia juga tak mau menelepon sekadar bertanya di mana bapak dari anaknya itu sekarang?
Suara motor menderu pelan, berhenti. Diikuti dengan pintu garasi yang dibuka, perlahan. Tak lama laki-laki itu masuk, menuju dapur yang memang terhubung langsung dengan garasi. Mendapati istrinya sedang sibuk di dapur, ia hanya senyum-senyum penuh teka-teki.
“Bapak dari mana?” Tanya istrinya pelan.
“Main” jawabnya sambil masih tersenyum.
Istrinya hanya diam tak melanjutkan pertanyaan.
“Anak kita masih tidur?” Lelaki itu memecah kembali hening.
“Iya. Kamu ga ngantor hari ini?”
“Nanti” jawab sang lelaki sembari mengganti pakaiannya dengan kostum rumahan. Celana pendek dan kaos belel. Menyelinap ke kamar, menciumi anaknya lalu mendengkur.
***
“Kamu di mana?”
“Rumah ibumu!”
“Ngapain? Ga pulang?”
“Ngapain pulang?”
“…”
Telepon diputus.
Amira menanti dengan gelisah. Hari sudah lewat senja. Bahkan sampai anaknya tertidur pun lelaki itu tak menelepon lagi, apalagi menyusul ke rumah ibunya.
Pikirannya berkecamuk. Mencari-cari letak kesalahan dirinya. ‘Apa karena beberapa malam lalu aku menolaknya berhubungan intim?’. ‘Apa jawabanku di telepon tadi terlalu ketus?’ Amira menebak-nebak.

“Tidur, Nak. Ini sudah larut” tegur ibu mertuanya.
“Aku mau pulang saja, Bu. Sekarang. Aku titip cucu ibu.”
“Kau mau ke mana?”
“Cari bapaknya anakku”
“Ibu ga izinkan!”
“Aku harus pergi, Bu!”

Amira menyusuri jalanan kota dengan mobilnya. Ia mengarahkannya ke rumah. Darahnya berdesir saat melihat lampu rumah masih menyala. Artinya bapak dari anaknya itu ada di rumah. Ia mengintip dari jendela, televisi masih menyala. Ia mulai ragu, mau masuk atau tidak. Perlahan dibukanya pintu rumah, rumah seperti kosong. Tak biasanya bapak dari anaknya itu lupa mematikan televisi. Ia memegang handle pintu kamar utama ketika ia mendengar bunyi dengusan memburu. Berbagai macam pikiran buruk datang seketika. Ia menguatkan hatinya untuk semua kemungkinan buruk yang akan ia lihat.

“BABI! PERGI KALIAN!”

Teriakan itu melengking di tengah malam. Dua babi betina berlari keluar. Di ranjang, bapak dari anaknya itu bersimbah darah.