Cakar Ayam

    Buku dari Masa ke Masa

    pemberangusan buku

    Artikel bertema Pemberangusan Buku ini ditulis oleh Kelompok 11 (Ade Gunawan, Dwi Apura Meity, dan Wienarieska) untuk memenuhi tantangan kesepuluh dari Kata Hati. Tagar yang digunakan untuk membaca karya lainnya sila cari di Instagram #katahatiproduction dan #katahatichallenge.

    “Bakar sampai menjadi abu, lalu bakar abunya.” Guy Montag dalam buku Farenheit 451

    Dalam sejarah manusia, seringnya kita menghilangkan atau melupakan sesuatu dengan berbagai tuduhan yang tidak beralasan, dalam hal ini bukulah yang lebih sering diberangus dari masa ke masa. Mungkin karena ketakutan akan suatu paham yang dapat menghancurkan negara, memberangus buku-buku adalah pilihan termudah. Namun tidak semestinya demikian, karena kita tahu bahwa buku adalah jendela dunia. Dari buku kita dapat mengetahui dan belajar banyak hal mengenai sejarah dan kehidupan. 

    Sejarah Pemberangusan Buku

    Fernando Baez dalam bukunya yang berjudul “Penghancuran Buku dari Masa ke Masa”, menuliskan hasil penelitiannya selama dua belas tahun mengenai  “Kenapa manusia membakar buku?”. Dalam buku ini Fernando memaparkan sejarah penghancuran buku berdasarkan kronologi waktu dalam tiga bagian; zaman dunia kuno, dari Byzantium hingga abad ke 19, dan dari abad ke 20 hingga sekarang.

    Penghancuran buku dalam sejarah dimulai di Sumeria. Sumeria merupakan sebuah peradaban kuno di Mesopotamia selatan, pada masa kini di selatan Irak. Tempat awal peradaban manusia mengumpulkan tulisan-tulisan (dalam bentuk tablet, lempengan yang terbuat dari tanah liat), berdasarkan temuan arkeologis di tahun 1924 ada 100.000 buku telah hancur akibat perang yang berkecamuk di wilayah tersebut.  Temuan yang mengandung paradoks; penemuan buku-buku paling awal, dan juga menandakan penghancurannya yang paling perdana.

    Pada era Byzantium hingga abad ke 19 terungkap bahwa era Perang Salib tidak hanya menyebabkan korban jiwa yang besar, melainkan juga turut hancurnya manuskrip dan buku-buku berharga. Selain karena perang, penghancuran buku juga dilakukan oleh otoritas gereja. Hal ini dilakukan terutama untuk buku-buku yang dianggap sesat. Buku-buku ini dibakar dan kerap penulisnya pun dibakar bersama dengan buku yang ditulisnya.

    Abad ke 20 hingga sekarang, Fernando membeberkan mengenai Holocaust dan biblioclast Nazi di Jerman. Bahwa sesungguhnya Holocaust yang dilakukan Nazi terhadap jutaan orang Yahudi selama Perang Dunia kedua diawali oleh sebuah biblioclast, di mana jutaan buku secara sistematis dihancurkan melalui sebuah ritual pembakaran buku, dengan pengumpulan massa, menyanyikan himne, pidato dan diakhiri dengan pembakaran buku. 

    Pemberangusan Buku di Indonesia

    Pemberangusan buku di Indonesia juga memiliki sejarah panjang, namun dalam buku ini hanya satu kasus yang menjadi sorotan Fernando, yaitu yang terjadi di tahun 2007. Atas alasan yang lebih politis, pihak berwenang di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan juga membakar lebih dari 30.000 buku ajar SMA di hadapan para siswanya. Buku-buku diberangus karena dianggap tidak sejalan dengan sejarah versi pemerintah tentang usaha kudeta tahun 1965 di Indonesia, yang selama puluhan tahun dikambinghitamkan pada orang-orang komunis.

    Di masa sekarang ini pun juga terjadi razia buku-buku, razia terakhir terjadi di sebuah toko buku di daerah Padang, Sumatera Barat, yang melibatkan aparat gabungan TNI, Polri dan kejaksaan Negeri. Aparat menyita enam ekslempar dari tiga buku yang disinyalir isinya mengandung paham komunisme. Dua pekan sebelumnya, ratusan buku yang diduga berisi ajaran paham komunis juga dirazia di Kediri, Jawa Timur.

    Tak hanya itu, melalui portal berita online mengenai pemberangusan buku diberitakan bahwa sebuah toko buku ternama bahkan juga pernah menarik sejumlah buku serial investigasi “Orang Kiri” dari rak penjualan, menyusul setelah adanya penarikan buku beraliran kiri ini di beberapa daerah.

    Penerbit buku pun tak luput menjadi sasaran aparat untuk urusan pemberangusan buku ini, seperti kejadian pada Penerbit Narasi di Yogyakarta dimana beberapa buku yang ditulis oleh Kuncoro Hadi disita karena disebut beraliran kiri.

    Perpustakaan Jalanan di Bandung juga pernah dibubarkan oleh aparat karena kecurigaan terhadap konten buku yang dibaca dan disewakan di sana. Bahkan, diduga terjadi kekerasan fisik terhadap para pegiat perpustakaan jalanan ini.

    Pemerintah Indonesia dan Pemberangusan Buku

    Pemerintah Indonesia sendiri sesungguhnya sejak tahun 2010 melalui Mahkamah Agung sudah mencabut kewenangan Jaksa Agung untuk melakukan pelarangan buku pada UU Nomor 4/PNPS/1963. Artinya, tanpa izin pengadilan maka pemberangusan buku tidak dapat dilakukan. Sehingga apa yang dilakukan oleh pihak aparat pada beberapa waktu lalu sebenarnya tidak dapat dibenarkan.

    Hal ini jika dikaitkan juga dengan apa yang sedang digencarkan oleh pemerintah mengenai Gerakan Literasi Nasional, maka pemberangusan buku seperti sebuah tindakan yang tidak mendukung masyarakat Indonesia untuk lebih mencintai buku dan menggalakkan literasi di lingkungan sendiri. Padahal seperti yang kita ketahui pada daftar World’s Most Literate Nations yang dibuat oleh Central Connecticut State University menyatakan bahwa literasi penduduk Indonesia berada di urutan ke-60 dari 61 negara.

    Pemberangusan buku ini sendiri jika secara kasarnya dapat dikatakan seperti sebuah pemaksaan ‘agama’ kepada pemeluk agama lain. Dimana semua keyakinan haruslah sama. Padahal kenyataannya, negara sendiri menjamin kebebasan penduduknya untuk meyakini ‘agama’nya masing-masing. Maka, akankah pemberangusan buku ini akan tetap terjadi?

    Sesungguhnya akan selalu ada usaha dari manusia untuk menghancurkan buku yang dianggap membahayakan atau tidak sesuai dengan keyakinannya. Jadi bagaimana kita menyelamatkan isi buku dari para penjagalnya? Hanya ada satu cara, yaitu dengan membacanya. Fisik buku bisa dihancurkan, namun isi buku yang terekam dalam ingatan akan sulit dihapus selama manusia masih dalam keadaan hidup.

    Sumber referensi;

    Pemberangusan Buku dari Masa ke Masa, Fernando Baez

    BBC News