Parenting [ANDARA]

    Drama Menjelang Persalinan Anak Kedua

    Sudah baca cerita sebelumnya? Perihal kehamilan anak kedua? Kali ini aku mau cerita drama menjelang persalinan anak kedua kami.

    Dokter Kandungan Langganan

    “Iya, dokternya sedang keluar kota, Ibu. Belum bisa dipastikan kapan pulangnya. Untuk dokter pengganti ada dokter D1, D2, D3 dan D4.”

    Penjelasan operator dari salah satu rumah sakit di Kota Bengkulu itu bikin aku stress seketika. Sudah lewat berminggu-minggu dari jadwal kontrol seharusnya, namun dokter kandungan pilihan keluarga kami itu tak kunjung pulang.

    “Ya sudah, kita coba dokter pemgganti saja, Bu.” Usul suamiku pada akhirnya. Aku mencoba mendatangi sebuah klinik dokter yang letaknya tak jauh dari tempat kerja. Deal. D1 ini buka praktik sore sampai malam hari. Kutelepon suamiku mengabarkan kemungkinannya.

    “Aduh… sore ini Bapak gak bisa, lembur nih. Kalau ibu dengan Adis saja gimana? Gak apa-apa? Atau ganti harinya…” Jawab suamiku di ujung telepon.

    “Gak apa-apa nanti sekalian pergi jalan sore sama Adis. Dekat juga kok.” Jawabku meyakinkan. Lagipula kalau ditunda lagi nanti aku makin stres. Takut kalau ada apa-apa tidak terdeteksi sejak dini.

    Dokter Kandungan Pengganti

    Dokter 1

    Saat itu usia kandunganku sekitar 6 bulan. Aku sudah penasaran dengan jenis kelamin anak kedua kami. Maunya sih laki-laki biar klop sepasang. Abis itu aku bisa stop hamil. Hehehe

    Aku dan Adis, anak pertama kami yang saat itu berusia 5 tahun menunggu di ruang tunggu dokternya. Seperti biasa untuk mengusir rasa bosan kami bermain ABCD lima dasar. Hayo masih ada yang ingat permainan ini gak?

    Tak lama bermain, namaku dipanggil. Adis paling semangat masuk ruang periksa. “Halo selamat malam… Ada keluhan apa nih, Ibu? Loh, Bapaknya mana sayang, berdua aja?” Sapa dokter D1 saat itu. Aku cuma mesem-mesem tak menjawab pertanyaan bapaknya di mana. Ada kok dokter di hatiku.

    “Oh mau kontrol aja… yuk kita USG dulu, lihat adiknya ya.. Jenis kelaminnya udah tau? Adis mau adiknya apa?”

    Tanya sang dokter sembari menggerakkan alat USG di atas perut rahimku.

    “Adis mau adiknya nanti perempuan. Tapi Bapak maunya anak laki-laki.” Jawabnya bersemangat sekaligus sedih.

    Aku nyengir mendengar jawaban Adis..

    Setelah beberapa saat, “Tenang, Dis. Adiknya perempuan!” Ucap D1 tak kalah semangat. Sementara Adis loncat dan teriak HOREEE kegirangan, iboknya ini membatin ‘Nambah lagi nih nanti anakku’.

    Beberapa minggu terlewati. Tak terasa usia kandungan sudah 8 bulan. Kami sempat memeriksakan kandungan ke dokter langganan. Sambil tetap penasaran apa benar jenis kelaminnya perempuan. Hehehe. Ternyata dijawab “Perempuan. Nih ada nih jelas cirinya.” Mendengar ucapan dokter saat itu, aku dan suami berpandangan sambil senyum penuh kode. Adis seperti biasa kelihatan senang banget karena bakal dapat teman main.

    Dokter 2

    Huru-hara kembali terjadi ketika usia kandungan masuk jadwal perkiraan lahirnya. Dokter langganan kembali berangkat keluar kota dan belum dipastikan kapan kembalinya (lagi). Pusing lagi deh aku. HPL sudah dekat, tanda mules mau lahiran sebenarnya juga belum ada. Tapi kan butuh kepastian, kalau terjadi apa-apa mau ke dokter yang mana. Biar tahu riwayat pasiennya.

    Ujung-ujungnya karena HPL juga sudah lewat dan tanda kelahiran belum ada, aku nanya di grup Blogger Bengkulu rekomendasi dokter kandungan. Iya di grup ini semua pertanyaan biasanya bisa dijawab, kayak google tapi versi kearifan lokal.

    “Rekomendasi dong! Dokter kandungan yang TOP pelayanan, konsultasi, penanganan dan bla bla bla… boleh juga yang punya pengalaman.” Tulisku saat itu.

    Tak lama, keluarlah beberapa nama lengkap dengan alamat praktik plus pengalaman pahit manis. Setelah itu aku diskusi ke suami dan pilih satu nama Dokter D2. Rencana awal maunya lahiran normal. Tapi melihat kondisi yang mana HPLnya sudah lewat dua minggu kayaknya butuh tindakan SC.

    Setelah mendaftar dan dapat nomor antrian, hari itu kami menuju ruang praktiknya. Harap-harap cemas berdoa juga semoga jodoh.

    “Saya mau bantu untuk persalinan dengan perkiraan tanggal segitu. Cuma… saya sudah tidak praktik di RS itu. Saya pratik di RS1 dan RS2. Nah, masalahnya lagi kalau mau pakai BPJS, layanan saya belum aktif. Sebab saya baru pindah. Kemungkinan aktifnya tahun depan. Takutnya kelamaan bayinya. Terus sayang aja kan punya BPJS tapi gak dipakai.” Penjelasan dokternya panjang lebar. Masuk akal dan penuh perhitungan.

    Sebenarnya kami sudah sreg sama dokternya tapi memikirkan biaya operasi sc tanpa BPJS membuat kami memilih mencari alternatif dokter lain saja.

    Eh, kok kami tidak memilih D1 tadi? Nah, D1 tadi juga praktiknya tidak di RS yang kami tuju. Makanya muter nyari dokter pengganti. Maunya di RS itu sebab dekat dengan rumah ortu, tempat tinggal sementara pasca lahiran nanti.

    Dokter 3

    Sudah pasrah tapi tak rela kalau tiba-tiba langsung ke IGD aja lahiran. Hehehe… akhirnya kami mencoba dokter ketiga. D3 ini juga rekomendasi dari teman blogger.

    “Iya sudah jauh ya HPL. Bayinya juga besar. Hmm.. belum masuk jalan lahirnya juga ini. Iya saran saya sc juga nih sebaiknya. Tapi kalau masih mau nunggu gak apa-apa. Bayinya aktif. Air ketubannya juga masih cukup.” Jelasnya saat itu.

    “Tanggal 25 Desember bisa dok? Hari libur?” Tanya suamiku langsung.

    “Bisa. Tapi agak siang ya sebab saya mau ziarah sebentar, mumpung keluarga besar kumpul.”

    Akhirnya hari dan jam disepakati. Rabu, 25 Desember 2019. Siang.

    Kami mengabari ke orangtua terkait rencana operasi sc ini. Mengurus rujukan BPJS dan booking kamar di RS. Sempat terjadi kehebohan lagi karena hari libur tandanya poli kebidanan TUTUP. Akhirnya setelah perundingan alot antara suami dengan bagian resepsionis dan pihak RS. Aku tetap bisa dioperasi pada tanggal yang dimau. Melalui jalur IGD. Iya, suami sengaja ambil hari libur juga biar banyak cutinya. Kekeuh gak mau geser ke tanggal 26! 🤣

    Huah… panjang ya ceritanya. Nah drama pasca persalinan nanti diposting selanjutnya yah…

    terima kasih sudah membaca. ❤️